Banyak dari kita tumbuh dengan keyakinan bahwa marah adalah emosi yang buruk—bahwa marah berarti lepas kendali, tidak sopan, atau bahkan dosa. Maka tak heran, kita sering menelan marah dalam diam, menumpuknya pelan-pelan sampai suatu hari meledak, atau malah berubah jadi luka yang tak terlihat. Padahal, marah adalah bagian dari diri yang justru sedang berteriak minta didengar. Marah menunjukkan bahwa ada sesuatu yang penting bagi kita: mungkin batasan yang dilanggar, keadilan yang tak ditegakkan, atau rasa sakit yang diabaikan terlalu lama. Marah bisa menjadi bentuk perlindungan diri, bahkan ekspresi cinta yang tulus terhadap sesuatu yang kita sayangi. Yang perlu kita pelajari bukanlah cara menghilangkan marah, tapi bagaimana memahami dan mengekspresikannya dengan sehat—dengan kata-kata, bukan luka; dengan keberanian, bukan kekerasan. Karena saat marah dimengerti, ia bisa berubah dari api yang membakar menjadi cahaya yang menerangi: membuka jalan menuju pemulihan, kejujuran, dan hubungan yang lebih jujur. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan diri saat marah. Mungkin, itu justru langkah pertama menuju keberanian untuk benar-benar mendengarkan diri sendiri.
🔥 Teka-Teki Marah Yang Berbicara 🔥
1. Menurutmu, apa arti marah?
A. Tanda ketidakmampuan mengontrol diri
B. Tanda bahwa ada batasan yang dilanggar
C. Bukti bahwa aku butuh didengarkan
2. Jika marah berbicara, ia akan berkata:
“Aku datang untuk melindungimu.”
“Aku adalah pesan, bukan musuh.”
“Aku butuh ruang untuk dipahami.”

Komentar
Posting Komentar